Thursday, 26 May 2011

Berita yang mengaibkan guru tanpa usul-periksa terlebih dahulu

 
LAKONAN semula bagaimana Muhammad Noor Azim dipijak oleh sekumpulan enam guru dalam kedudukan bersujud.

HULU LANGAT – Seorang pelajar sebuah sekolah di Jelebu, Negeri Sembilan mendakwa dibelasah hingga cedera oleh sekumpulan guru lelaki di sekolah itu pada Selasa lalu.
Muhammad Noor Azim Ajis, 17, mendakwa, kejadian bermula ketika dia sedang menduduki peperiksaan percubaan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) kertas Bahasa Melayu sebelum seorang guru datang dan memintanya ke bengkel sekolah.
“Apabila tiba di bengkel, ada enam guru lelaki lain. Tiba-tiba mereka menumbuk, menendang dan memijak saya hampir setengah jam,” dakwanya ketika ditemui Kosmo! di rumahnya di Kampung Jawa, Batu 18 di sini semalam.
Selain menjadi mangsa sepak terajang, dia juga mendakwa dipukul dengan objek keras pada kejadian pukul 8.30 pagi itu.
Akibat serangan itu, Muhammad Noor Azim terpaksa mengambil cuti sakit kerana cedera di muka, kepala dan badan serta tidak berupaya menduduki peperiksaan.
Dia mendakwa, kumpulan guru itu mengarahkan dia bersujud dengan kedua-dua tangan dilipat ke belakang sebelum dipijak dan ditendang.

Tuesday, 17 May 2011

Jangan Biarkan Anak Anda Di Sihir

إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ لَسِحْرًا أَوْ إِنَّ بَعْضَ الْبَيَانِ لَسِحْرٌ
"Sesungguhnya dalam penjelasan (bayan) itu mengandung sihir, atau sesungguhnya sebagian bayan (penjelasan) itu mengandung sihir." (BUKHARI - 5325)
Sihir merupakan kekuatan oknum Dajjal. Kelak ia akan menyihir ummat manusia dengan “surga” dan “neraka”nya yang bertentangan dengan Surga dan Neraka yang sebenarnya. Dajjal kelak akan muncul sebagai musuh kemanusiaan. Sebagaimana Nabi Saw mengatakan bahwa setiap Nabi dan Rasul diutus untuk memperingatkan ummat manusia akan Dajjal ini. Dan bahwa kelak ketika muncul Dajjal akan berkelana di atas bumi ini dan memasuki setip kampung dan negeri untuk menyesatkan ummat manusia, kecuali dua negeri.
Dewasa ini sihir sudah menjadi komoditi. Bahkan sihir sudah menjadi konten tetap dalam film dan hiburan dewasa dan anak. Namun banyak yag tidak menyadari kadar bahayanya. Terutama para orangtua modern yang membesarkan anak-anaknya di depan layar monitor dan televisi.

Monday, 2 May 2011

3 tip Adi Putra pintar Matematik

LANCAR...Adi Putra (tengah) ketika pelancaran bukunya, Seni Matematik Islam. KUALA LUMPUR: “Untuk menjadi seorang yang mahir dan pintar dalam Matematik Islam, tiga tip perlu diamalkan iaitu jangan pegang mesin kira setiap kali hendak mengira, kurangkan mengguna SMS dan kurangkan bermain alat permainan video,” kata Adi Putra Abdul Ghani, 12, kanak-kanak cilik Matematik Islam.
Dia yang memberikan tip berkenaan pada majlis pelancaran buku sulungnya, Seni Matematik Islam di sini, semalam, berkata petua berkenaan perlu diamalkan kerana banyak sebab dapat dilihat berlaku daripada menggunakan perkara di atas.

“Menggunakan mesin kira sama seperti seseorang itu memalaskan otak untuk berfikir dan mengharapkan jawapan yang dikira terus tertera.
“Dengan mengurangkan penggunaan SMS pula, ia mengekalkan penggunaan bahasa Melayu yang dilihat semakin terjejas ekoran sikap masyarakat kini yang gemar menggunakan bahasa singkatan setiap kali menaip mesej di telefon bimbit.

“Penggunaan alat permainan atau ‘video game’ juga boleh melalaikan jika dibiarkan menjadi hobi sehingga ada yang terleka tanpa perlu melakukan apa-apa termasuk bersolat,” katanya. Hadir sama pada majlis berkenaan, pensyarah Universiti Teknologi Malaysia (UTM) merangkap Mentor Adi Putra, Profesor Madya Dr Pakharuddin Mohd Samin, pelakon veteran, Senator Tan Sri Jins Shamsuddin dan penyampai radio, Halim Othman.

Adi Putra yang turut mendapat gelaran Profesor Cilik Matematik Islam dari Universiti Riau, Indonesia, berkata walaupun permainan video alat interaktif yang mampu menjana minda, tetapi untuk jangka masa panjang ia membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan.

Buku setebal 200 muka surat yang diilhamkan Adi Putra dalam menghasilkan Matematik Islam sejak dia berusia enam tahun itu dikumpulkan hasil daripada 12 formulanya mendalami pelajaran Matematik.

Dijual pada harga RM40.20 senaskhah, buku yang sudah dua minggu berada di pasaran itu terjual lebih 3,000 naskhah sejak ia dipasarkan.
Masa sebulan diambil untuk menyiapkan buku berkenaan dan Adi Putra menyasarkan menerbitkan buku itu dalam lima bahasa iaitu Inggeris, Mandarin, Arab, Jerman dan Perancis.

Tuesday, 26 April 2011

Sejarah Terciptanya Rokok


Sumber[CacaMarba]
Rasulullah SAW pernah bersabda (maksudnya) : “Kelak akan datang kaum-kaum di akhir zaman, mereka suka menyedut asap tembakau dan mereka berkata: Kami adalah umat Muhammad padahal mereka bukan umat ku dan aku juga tidak menganggap mereka sebagai umat ku, bahkan mereka adalah orang yang celaka”

Abu Hurairah R.A yang mendengar sabda tersebut bertanya: “Bagaimana sejarah tembakau itu tumbuh wahai Rasulullah?” Sabda Rasulullah SAW : “ Sesungguhnya setelah Allah menciptakan Adam dan memerintahkan para malaikat untuk sujud (tanda penghormatan) kepada Adam, seluruh malaikat kemudian sujud kepadanya kecuali iblis. Dia enggan, sombong dan termasuk orang-orang yang kafir.


Allah bertanya kepada iblis : Wahai iblis apa yang menyebabkan kamu tidak mahu sujud ketika Aku memerintahkan mu? Kata iblis : Aku lebih baik darinya, aku tercipta dari api sedangkan ia dari tanah. Allah berfirman: Keluarlah engkau dari syurga, sesungguhnya engkau terkutuk dan engkau dilaknat hingga akhir.


Iblis keluar dalam ketakutan hingga terkencing-kencing. Dari titisan kencing iblis itulah tumbuh sejenis tumbuhan yang dinamakan pokok tembakau.” Nabi bersabda lagi : “Allah memasukkan mereka ke dalam neraka dan sesungguhnya tembakau adalah tanaman yang keji” (Saya petik keseluruhan maksud hadis ini dari buku ‘HARAM MEROKOK’ oleh Adil Akhyar muka surat 12) Kepada rakan2 ku yang merokok, moga kita tidak rasa tersinggung hati dengan hadis ini.
Teratak Santai: Sejarah Terciptanya Rokok

Sunday, 10 April 2011

Jangan Membela Orang Fasik Dan Menghujat Orang Sholeh

Sumber (eramuslim.com)
Orang bilang bahwa media modern sekuler memiliki motto “bad news is good news”. Artinya setiap kejadian buruk malah menjadi sumber penghasilan. Oleh karenanya media bermotto seperti itu sangat rajin mengumpulkan dan menyebarluaskan berbagai kejadian yang mengandung kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, intrik, konflik dan kriminalitas. Semakin heboh suatu kejadian semakin bersemangat para kuli tinta sekuler memburunya. Itulah realitas berbagai media yang sejatinya berkarakter “modern sekuler”. Dia tidak peduli jika berita yang disebarluaskan melanggar akhlak ajaran Allah سبحانه و تعالى Al-Islam. Ia hanya mengutamakan bagaimana caranya agar tiras atau ratingnya tinggi di mata para pembaca, pendengar atau pemirsanya. Semakin tinggi tiras, maka semakin besar income yang dihasilkan. Inilah realita dunia media-massa pada umumnya di zaman penuh fitnah dewasa ini.

Sampai di sini sesungguhnya masalah yang timbul sudah cukup parah. Sebab keadaan ini menjadikan masyarakat setiap hari harus mendengar, menyaksikan dan mengunyah-ngunyah berbagai berita buruk yang sudah barang tentu mempengaruhi otak dan hatinya. Dan akibat selanjutnya masyarakat cenderung mengalami de-sensitisasi (penurunan kehalusan perasaan/penginderaan) terhadap berbagai  perilaku kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, intrik, konflik dan kriminalitas yang diberitakan media-massa. Artinya masyarakat kian hari menjadi kian terbiasa dengan berbagai keburukan tersebut sehingga  menjadi toleran terhadap semua hal keji itu. Akibat puncaknya hilanglah ghirah (kecemburuan) di dalam diri dan akhirnya spirit amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) menjadi pupus kalau tidak bisa dibilang mati sama sekali.

Sulit menemukan media dewasa ini yang berfungsi sebagai pelita di tengah kegelapan zaman penuh fitnah. Media yang menyebabkan manusia menjadi ingat dan tunduk-merendah kepada sang Pencipta Alam Raya, Allah سبحانه و تعالى . Yang menyebarluaskan optimisme akan masa depan cerah kebangkitan kembali dienullah Al-Islam. Yang meyakinkan masyarakat bahwa hanya dengan kembali kepada Al-Islam sajalah dunia akan menemukan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan hakiki. Yang tidak ikut terkotak ke dalam fanatisme kelompok, golongan maupun partai alias media partisan. Yang senantiasa mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan dunia bersifat fana dan bakal sirna, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati dan abadi. Yang meyakinkan ummat bahwa sepahit apapun penderitaan dunia, sesungguhnya ia tidak setara dan tidak patut disejajarkan dengan kesengsaraan hakiki Murka dan Neraka Allah di akhirat kelak nanti. Yang terus-menerus menyadarkan masyarakat bahwa senikmat apapun kesenangan dunia, namun ia tidak pantas diburu dan dikejar sebagaimana seharusnya berkompetisi memburu kebahagiaan hakiki dan lestari Ridho dan Jannah Allah di akhirat kelak. Yang menyemangati setiap orang beriman agar selalu memperjuangkan ihdal-husnayain (satu dari dua kebaikan), yakni isy kariiman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) atau mut syahiidan (mati syahid).   

Sampai di sini sesungguhnya masalah yang timbul sudah cukup parah. Tetapi masalahnya tidak cuma itu. Sudahlah media yang beredar umumnya sekuler lalu ditambah lagi dengan realitas pahit bahwa masyarakat yang menikmati media seperti itu umumnya merupakan masyarakat yang mudah terprovokasi.  Masyarakat penikmat media sekuler tadi sangat mudah dipancing emosinya untuk berreaksi yang sungguh jauh dari dewasa dan bertanggung-jawab, apalagi bersikap Islami...! Dalam merespon media penyebar kerusakan kebanyakan masyarakat terbelah menjadi dua. Sebagian menjadi corong yang turut menyebarkan lebih lanjut apapun berita atau info media tadi. Padahal boleh jadi sebenarnya berita yang disebarkan tidak benar alias palsu. Sehingga kadangkala orang yang menyebarkan berita tadi tanpa sadar telah terlibat dalam menghujat orang yang sholeh semata-mata karena ia tidak suka kepada orang tersebut atau kelompok dimana orang tersebut merupakan anggota di dalamnya.   Tetapi bisa juga terjadi bahwa tanpa sadar kita secara membabi-buta alias taqlid membela orang yang memang benar-benar terlibat suatu kemaksiatan semata-mata karena yang diberitakan itu adalah kawan dekat atau teman sekelompok, golongan atau partai.

Sungguh kita sedang menjalani era penuh fitnah. Masyarakat begitu mudahnya terpancing untuk harus berfihak ketika mengikuti suatu isyu yang ditebar media. Seolah hanya ada dua pilihan sikap. Menyetujui isi pemberitaan atau mengingkarinya. Padahal menyetujui seringkali berarti turut menebar fitnah, gosip dan dusta. Sebaliknya, mengingkari terkadang menyebabkan hilangnya sikap obyektif dan menyuburkan fanatisme kelompok yang bersifat irrasional. Right or wrong is my group, my organization and my party. Oleh karenanya Allah سبحانه و تعالى sangat mengharuskan seorang muslim bersikap adil dan obyektif.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ
شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. (QS An-Nisa 135)

Janganlah karena fihak yang memperoleh pemberitaan negatif di media adalah “orang dekat” kita maka dengan membabi-buta kita bela dia. Seolah orang dekat kita itu tidak pernah terlibat kesalahan dan dosa. Waspadalah saudaraku, jangan sampai tanpa sadar kita malah membela dengan kacamata kuda seseorang yang sebenarnya dikategorikan Allah سبحانه و تعالى sebagai orang fasiq (jahat). Janganlah spirit keorganisasianta’ashshub (fanatisme golongan) yang dibenci Allah سبحانه و تعالى dan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم  . Ingat, semua kita pasti akan mempertanggung-jawabkan apapun yang telah kita sikapi, ucapkan dan perbuat. Jangan asal membeo kepada fihak yang kita merasa sudah dekat dengannya. Padahal siapapun di dunia ini –selain Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم - bisa tergelincir ke dalam kesalahan dan dosa. Selain Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم tidak ada fihak yang dapat meng-claim dirinya atau kelompoknya sebagai pemilik kebenaran sejati. dibiarkan berkembang menjadi virus
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS Al-Israa 36)

Seperti misalnya kasus seorang pejabat aktifis Islam yang mengutip ayat dari Kitab Suci selain Al-Qur’an. Maka timbul kehebohan di masyarakat. Banyak aktifis Islam lainnya yang mengecam perbuatan tersebut. Mereka memandang apa perlunya tindakan seperti itu dilakukan, tidakkah cukup mengutip dari Al-Qur’an saja sebagai daftar firman Allah سبحانه و تعالى yang telah sempurna dan lengkap? Kemudian secara otomatis muncullah pembelaan dari aktifis seorganisasi dengan pejabat tersebut. Ia melakukan pembelaan yang sedemikian ilmiah dalam sebuah tulisan panjang. Maksudnya adalah memberikan alasan argumentatif dalam rangka justifikasi perbuatan sang pejabat. Tulisan tersebut cukup bermutu. Tetapi sayang ketika sang pejabat itu sendiri di-tabayyun (dimintai penjelasannya) kemudian diwawancarai langsung oleh media untuk ditanyakan apa sebenarnya latar belakang ia mengutip Kitab Suci selain Al-Qur’an, maka ia mengaku dirinya merupakan sosok inklusif yang menghadirkan Islam Rahmatan Lil 'Alamien. Lalu ia mengatakan bahwa penyebutan terhadap ayat di Kitab Suci selain Al-Qur’an itu menunjukkan partainya tidak memiliki pandangan sempit. Artinya, apa yang begitu panjang lebar dan ilmiah dijadikan pembelaan oleh kawan separtainya justeru dibantah oleh pejabat itu sendiri. Ini sudah cukup bagi kita untuk memperoleh gambaran akan situasi yang sebenarnya. Wallahu a’lam.
Tetapi demikian pula sebaliknya, janganlah kebencian kita kepada orang atau kelompok tertentu menyebabkan kita ikut-ikutan menjadi usil sebagaimana usilnya para insan media sekuler. Semata-mata karena kita senang melihat fihak lawan politik kita tersingkap aib dan kelemahannya di depan publik.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ
شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
عَلَى أَلا تَعْدِلُوا
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al-Maidah 8)

Betapapun tidak setujunya kita terhadap kiprah seseorang atau suatu kelompok tertentu hal itu tidak boleh menjadi pembenaran atas penyebarluasan aib dan kesalahan mereka. Kita harus senantiasa ingat dan yakin bahwa para malaikat tidak pernah lalai mencatat setiap perbuatan manusia, baik dikerjakan di tempat terbuka maupun tertutup. Dan Allah سبحانه و تعالى merupakan Dzat Yang Maha Adil. Allah سبحانه و تعالى pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal atas setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun. Setiap amal kebaikan akan memperoleh reward yang setimpal dan setiap amal keburukan memperoleh hukuman yang juga setimpal.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.(QS Az-Zalzalah 7-8)